CAHAYA PELEPAS KEPERGIAN BUNDA – Daily Sastra

CAHAYA PELEPAS KEPERGIAN BUNDA

“Bunda itu sayang sama kamu. Tetapi, Bunda lagi bantu ayah untuk nafkahi kamu.” Selalu itu yang dikatakan Nenekku. Katanya, Bunda pasti akan segera kembali pada pelukanku, dan aku justru percaya akan hal itu.

Belasan tahun sudah berlalu, rasanya lelah sekali untuk bisa puas bertemu Bunda aku harus pergi ke kota Bandung. Serang-Bandung membutuhkan waktu kurang lebih lima jam. Itu pun dengan mengistirahatkan diri barang beberapa hari di sana. Tak jarang memang aku memberikan surprise pada bunda. Diam-diam datang ke Bandung bersama Nenek dan Kakek. Sungguh, wajahnya terlihat jelas amat sangat bahagia.

“Assalamu’alaikum,” sapa seseorang di luar rumah.

“Wa’alaikumussalam,” jawabku seraya membukakan pintu.

Betapa bahagianya aku bahwa Bunda sudah tersenyum di balik pintu sana bersama Aayah dan kedua adikku. Aku mempersilakan Bunda masuk dan beristirahat. Namun, justru kembali berbincang dengan Nenek dan Kakek. Begitupun denganku, aku melepas rindu dengan adik-adikku.

“Bunda akan pindah ke sini, loh,” ucap Bunda bahagia

“Wah, beneran, nih, Bun?” tanyaku dengan mata berbinar yang dihadiahi anggukan dan senyum manis Bunda.

Ah, bahagia sekali aku saat itu. Mengingat bahwa tidak akan lama lagi adalah hari kelulusanku.


Dua tahun berlalu, Ayah bekerja seperti biasanya. Terlihat tampan dengan pakaian loreng yang ia kenakan. Sedangkan Bunda mendandaniku untuk persiapan wisuda hari ini. Adik bungsuku, sama halnya dibuat semakin lucu.

“Foto dulu situ sama Ayah.” Tunjuk bunda pada tempat yang ia maksud.

Aku berpose tersenyum mengarah pada kamera, sedang bunda bersiap memotretnya. Ini hari kelulusanku di sekolah dasar. Ayah memang tidak bisa datang lantaran harus bekerja, tapi Bunda dengan setia menemaniku selama berlangsungnya acara. Begitu sederhana acara yang diadakan. Namun, kesannya tetap meriah bagi yang merayakan. Hingga acara selesai, kenangan itu tertutup pada masanya.

Malam ini begitu sunyi. Rasanya tentram dan sepi. Sebuah rasa hinggap di diri ini. “Ada apa ini sebenarnya?” pikirku dalam hati.

“Teh ….” Samar-samar aku mendengar suara lelaki dalam lelap tidurku.

“Teh ….” suara itu meningkat satu oktav.

‘Gempa’

Aku membuka kedua mata. Kulihat adikku menatapku penuh kebingungan.

“Bunda, teh,” ucapnya penuh rasa khawatir.

Aku bergegas bangun dari tidur dan membangunkan Nenekku, lantas segera bergegas menuju kamar Bunda.

Betapa sakitnya hatiku, melihat bunda terbujur kaku dengan lidah terulur. Tubuhnya dingin, detak jantungnya tidak lagi bisa terdeteksi. Keluargaku segera membawa bunda menuju rumah sakit terdekat.

“Ikhlaskan bunda, ya, Sayang. Biarkan bunda bahagia di sana,” ucap Nenek dan sanak saudara yang lain.

Aku mematung, kedua adikku menangis, meraung. Kuhampiri mereka, kudekap erat mereka seperti tengah berbagi rasa sakit. Hari itu juga, bunda pergi meninggalkanku setelah melepas kelulusanku. Apakah itu yang bunda inginkan? Itukah alasan bunda ingin pindah rumah ke Serang?

Ribuan pertanyaan terlintas dalam benakku. Membuat pikiranku kian berkecamuk.

“Bunda sudah tenang, Sayang. Semalam ibu melihat cahaya keluar dari makam bundamu. Dia bahagia di sana, percayalah!”

Sejak saat itulah, aku ikhlas melepas bunda. Aku juga percaya, Bunda pasti bahagia di syurga-Nya.

Biodata Penulis:

Maulida Nurhadian Fitria adalah gadis keturunan Sunda yang lahir pada 16 September beberapa tahun lalu. Ia biasa dipanggil Maulida oleh kebanyakan orang. Gadis yang aktif di beberapa komunitas kepenulisan juga menjabat sebagai mahasiswa semester 3 di universitas Mercu Buana Yogyakarta. Jangan lupa mampir ke media sosialnya di ig @aksarasa.maulida FB @sixtenber

Daily Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099