Dari Sebatang Kebenaran Aku tahu Ini tak bertahan lama Rinduku menguap di bawah kolong meja Tersentuh dari lentiknya jari jemari yang mencoba mengais sukmaBuku ini tanda keabadian Gawai ini tanda kefanaan Kantong hitam ini tanda bekal Keabadian yang takkan terbantahkan dari berbagai delusi-delusi yang semu Kefanaan takkan dibela bahkan jika harus melawan dari garis fatwa-Nya Kantong hitam takkan koyak walaupun termakan zamanBekal hidup di alam baka Nyiur suara gemuruh lenguhanmu masih melekat di daun telinga Aku tahu Namun mungkin Coba kau bawa saja Buku, gawai, dan kantong hitam itu Mungkin dapat memberikan arti kebenaran, arti kefanaan, dan arti bekal Itu saja Lestari Sastra, 1 Oktober 2022 Capit Hatiku Seperti capit jemuran ini, Drupadi Kau gantung setiap lengah biasanya ku adu di penghujung senja Tak pelik siratkan beberapa arti yang Menggenang di ruamnya kalbuBisik-bisik gulana yang menyisir setiap jiwa yang terasa kebingungan Kapan kusut malam segera usai?Jika manisnya pagi selalu kuharapkan untuk senantiasa meratap disetiap penggal doakuLestari Sastra, 3 Oktober 2022Seutas rambutAku tak bisa bercumbu lagi Ketika bahuku tak ada dengusan akrab dari bibirmu Aku tak bisa membaca lagi Saat rembulan tak sanggup lagi mengeja cintanya pada bintang-bintang Tapi seutai rambutmu Ku selipkan dilipatan saku kemeja biru Sambil tersenyum pilu Kau, rasaku, dan kelu Masih sebatas semuLestari Sastra, 4 Oktober 2022





Leave a Reply