Jangan Jadi Pemuda Elit, Tapi Literasinya Sulit – Daily Sastra

Jangan Jadi Pemuda Elit, Tapi Literasinya Sulit

ilustrasi by teachthought.com

Banyak postingan di sosial media yang menuliskan salam literasi dan beberapa hastag lainnya. Tapi tahukah kamu, apa sebenarnya arti dari literasi itu sendiri? Apakah hanya sekedar menulis? Apakah hanya sekedar melihat dan membaca lalu di unggah di halaman medsos? Tidak hanya seperti itu.

Literasi menurut Riley, (dalam Dafit et al 2020), literasi yaitu dasar keberhasilan dalam pembelajaran. Sedangkan menurut Romdhoni (2013: 90) menyatakan bahwa literasi merupakan peristiwa sosial yang melibatkan keterampilan-keterampilan tertentu, yang diperlukan untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan.

Jika disederhanakan menurut versi penulis, literasi yakni kegiatan apa saja yang menghasilkan karya. Kegiatan literasi memang selalu berkaitan dengan menulis dan membaca. Karena dengan begitu, berbagai macam informasi terserap dan akan tertuang menjadi sebuah tulisan, dan akhirnya menciptakan suatu karya dan ide gagasan yang baru.

Tapi, sejauh ini. Semakin bertambahnya peradaban, cara untuk berliterasi itu bermacam-macam. Bisa saja dengan cara audio visual seperti YouTube, podcast, gambar animasi, dan lain-lain.

Menurut jurnal USAID yang berjudul tingkatkan literasi mahasiswa melalui jurnal baca, mengartikan jika literasi memang merujuk pada kemampuan dasar seseorang dalam membaca dan menulis. Sehingga selama ini, strategi yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan tersebut adalah menumbuhkan minat membaca dan menulis.

Strategi membaca dengan media Jurnal baca harian merupakan langkah awal untuk membiasakan gemar membaca. Akan tetapi, perlu kita sadari kesadaran membaca anak muda dan beberapa kalangan para intelektual merasa jika membaca ini sangatlah membosankan. Kenapa bisa begitu?

Menurut argumen saya, yang pertama, anak muda zaman sekarang sudah takut terlebih dahulu jika melihat ketebalan halaman buku yang akan ia baca. Kedua, harga buku yang terlalu mahal. Ketiga, karena kecanggihan teknologi sekarang yang dapat memudahkan anak muda untuk mendapatkan akses membaca buku di e-book, walaupun untuk rutin membaca e-book saja hanya bisa bertahan satu kali dengan jarak waktu 1 menit. Keempat, lingkungan tak mendukung. Kelima, rasa malas.

Sebenarnya ada berbagai macam cara untuk mensiasati kebosanan membaca dan menulis, tapi mungkin cuma dari 0,001% pemuda-pemudi yang mau melakukannya. Contoh menarik agar senang membaca diantaranya baca di halaman yang luas dan hijau, seduh segelas kopi, dan membaca minimal 5 halaman. Mungkin langkah-langkah ini terlihat sederhana, namun jika dilakukan setiap hari akan terasa ringan dan efeknya sangat luar biasa.

Suatu kemuliaan tersendiri apabila seseorang dapat melestarikan kegiatan berliterasi. Disamping mempunyai daya nalar yang logis dan kritis, secara otomatis, kekerdilan dalam ruang sempit pemikiran akan semakin lama menghilang.

Karena kebebasan berpikir itulah membentuk pribadi manusia untuk selalu berpikir dan bijaksana dalam mengambil suatu keputusan, serta tidak gampang terpengaruh oleh orang lain. Bukankah begitu?

Penulis : Ayu Lestari

Keynote : Daimul Umam

Daily Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099