
“Jika ingin disebut penulis, maka menulislah.”
Lestari_sastra
Sesuai apa yang kita lakukan secara berkelanjutan, otomatis stimulus otak akan bekerja sesuai apa yang sering kita kerjakan dalam kesehariannya. Seperti halnya dengan menulis. Apabila penulis tersebut konsisten dengan selalu menciptakan karya-karya, ia akan selalu produktif untuk menghasilkan karya. Beda lagi dengan penulis yang hanya dari niat awalnya hanya ingin mengejar material, pemikiran yang seperti itulah yang mengakibatkan penulis malas untuk berkarya dan cepat puas.
Menurut Burhan Nurgiyantoro ( 2001 ) menulis ialah aktivitas mengungkapkan gagasan melalui media bahasa. Sedangkan menurut Nurhadi ( 2016 ) membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis dan kreatif yang dilakukan pembaca untuk memperoleh sebuah pemahaman nilai, fungsi, dan dampak bacaan. Dengan adanya hal ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa menulis dan membaca merupakan dua komponen yang saling keterkaitan dengan seorang penulis dalam menuangkan sebuah pemikiran, gagasan, ide, yang sangat memberikan pengaruh penting dalam menyampaikan suatu karya.
Lantas, apa saja manfaat yang kita dapatkan terkait dengan adanya kegiatan menulis dan membaca?
Dari segi teoritis, manfaat menulis mencakup beberapa hal yang mungkin tanpa disadari menambah ilmu kita didalam kepenulisan, melatih kepekaan diri terhadap fenomena yang terjadi di sekitar, merangsang atau melatih daya serap imajinasi, memperbanyak diksi atau kumpulan kata yang mengandung arti yang semakna, lalu melatih kreativitas, serta meminimalisir sikap plagiasi. Ini menjadi keprihatinan dari ranah tulis menulis bahwasanya kecemasan akan adanya plagiasi entah adanya faktor disengaja maupun tidak akan menyebabkan kerugian kepada penulis yang terlibat plagiasi.
Setelah menelaah lebih jauh tentang manfaat menulis, dengan kaitannya membaca, apa Manfaat yang kita rasakan jika gemar membaca diataranya untuk menangkis segala kebodohan dari berbagai sumber yang tidak bertanggung jawab atas apa yang telah di muat di sembarangan lini yang acap kali di kunjungi oleh masyarakat, terutama kunjungan dari media sosial dengan penyampaian berita yang sangat cepat, tanpa adanya filtasi yang dilakukan. Sementara itu, penambahan wawasan yang lebih luas, terbuka, kritis serta objektif serta ide-ide yang menciptakan gagasan baru yang progresif. Dan yang tidak kalah penting, kita akan mendapatkan suguhan nasihat tanpa merasa sakit hati. Karena dengan membaca buku sering kali menjumpai kata-kata yang mengandung sindiran, nasehat yang factual tanpa menyakiti hati si pembaca.
Adapun dari banyaknya penelitian-penelitian, menemukan informasi terbaru yang menyatakan bahwa dengan seringnya membaca akan meminimalisir penyakit Alzheimer yang sering dirasakan oleh manusia yang telah lanjut usia ( lansia ). Itu berarti membuktikan bahwa, membaca tidak menjadikan karakter yang membosankan, tekstualis, dan sangat idealis.
Setelah mengupas habis tentang manfaat menulis dan membaca untuk diri kita, apakah ada keuntungan dalam menulis dan membaca? Tentu saja ada.
a. Beda dari yang lain
dalam arti dari segi wawasan, penguasaan kaidah bahasa, ejaan yang disempurnakan akan memperlihatkan perbedaan antara penulis yang secara berkelanjutan berkarya dan penulis musiman.
b. Menambah skill ( keterampilan )
terlihat saat tulisan-tulisan yang sering dibubuhkan kepada penulis untuk mengidentifikasi keterampila yang ada pada si pengarang atau penulis. Lebih lagi skill tersebut dapat membantu mahasiswa dalam membuat makalah atau skripsi.
Bagaimana cara kita memunculkan imajinasi dalam karya?
Sebenarnya hal ini bersifat opsional saja. Tergantung jenis bacaan apa yang ingin kita buat. Jika jenis bacaan tersebut dari golongan fiksi, menambahkan imajinasi didalamnya justru membuat pembaca lebih tertarik dan tidak menutup kemungkinan akan selalu menunggu pemberitahuan dari karya-karya kita yang terbaru. Nah, jika bacaan yang tergolong non fiksi, tidak dianjurkan untuk penambahan imajinasi. Karena memang bacaan tersebut bersifat orisinil, aktual dan objektif ( tanpa dibut-buat ).
Bagaimana jika ditengah perjalanan kita menciptakan karya, muncul sikap block writing?
Kita telusuri terlebih definisi dari block writing yaitu istilah dari hambatan atau tersumbatnya ide-ide penulis selama proses menulis. Penyebab dari adanya block writing ini adalah tidak adanya pola sebelum menulis. Sebaiknya saat ingin menulis, langkah awal yang harus ditempuh yakni membuat draft kerangka karangan yang mencakup tema serta isi atau intisarinya.





Leave a Reply