Ahmad Khoiron
@heyulong_khoiron
Mari kita belajar komunikasi yang efektif dan baik. Kita semua adalah penyampai pesan. Pada batasan orang yang menyampaikan pesan secara umum. Kita menjadi apa tergantung pesan apa. Berasal dari siapa. Untuk siapa. Untuk tujuan apa.
Menjadi seorang nabi, bila pesan berasal dari Tuhan untuk umat. Menjadi seorang guru apabila pesan disampaikan kepada murid. Menjadi orang tua bila pesan disampaikan kepada anak. Menjadi pelanggan bila pesan disampaikan ke penyedia jasa. Menjadi tetangga bila pesan disampaikan ke orang sebelah rumah. Menjadi teman bila pesan disampaikan ke teman. Menjadi suami bila pesan disampaikan kepada istri. Dan lain-lain.
Pesan lisan maupun tulisan. Langsung maupun melalui media. Manusia mempunyai kemampuan yang terbatas. Sehebat apapun. Setinggi apapun jabatan dan kedudukan, sekaya apapun materi yang ia dapatkan, Ia membutuhkan keberadaan orang lain. Saling membantu untuk memenuhi kebutuhan. Primer, sekunder, tersier. Komunikasi tercipta karena kebutuhan itu. kebutuhan untuk menyampaikan pesan. Terlepas dari atau sepenting apapun pesan itu.
Semakin efektif dan semakin baik komunikasi, semakin mudah seseorang bersosialisasi dengan orang lain. Kesempatan membantu dan dibantu semakin lebar. Pemenuhan kebutuhan lebih memungkinkan tercapai. Dengan kesadaran keterbatasan diri dan kesadaran kebutuhan akan kehadiran orang lain, saya rasa perlu belajar komunikasi yang efektif dan baik. Komunikasi yang dilakukan atas dasar saling membutuhkan, saling membantu. Dilakukan dengan “adil sejak dalam pikiran”.
Dilakukan dengan niat baik. Tidak egois, tidak ingin menang sendiri. Tidak curang, tidak culas, tidak mentang-mentang, tidak menyinggung. Sebaliknya komunikasi dilakukan dengan tujuan menyenangkan dan membangun.
Saya mempunyai tiga contoh komunikasi yang menurut saya kurang pas. Mengendap cukup lama dalam diri saya.
Pertama, Ini sangat mudah ditemui. Sebuah pesan nasihat, mengandung ajakan. Tapi terlalu menohok. Begini kalimatnya:
“Sholatlah, sebelum di salati.”
Kalimat tersebut kurang efektif dan kurang baik.
Bila penyampaian pesan itu bertujuan agar penerima pesan tergerak untuk sholat, yang terjadi mungkin malah sebaliknya. Penerima pesan bukannya tergerak untuk melakukan salat, malah dongkol dan ngajak gelut.
Bukankah lebih baik diganti dengan kalimat,
“Yuk, sholat.”
Cukup. Atau,
“Tolong temani saya sholat jamaah.”
“kereta saja melaju bergandengan bersama-sama, masak sholat tidak.”
Atau bagaimanalah penataan kalimatnya, agar pesan lebih efektif. Pesan yang berkesan mengajak, bukan menyuruh. Berkesan lebih santun dan santai. Bukan arogan dan menyulut emosi.
.
Kedua, Saat masih kuliah, di twitter(saat itu masih twitter) saya saling follow dengan mahasiswi jurusan Bahasa Mandarin dari Kalimantan. Muslim. Melihat dari cara berbusana dan komunikasinya, saya berkesimpulan dia aktif di lingkungan dakwah. Tahu lah ya.
Mungkin karena sama-sama jurusan Mandarin, kami sering berinteraksi. Saling belajar.
Suatu hari dia kultwit membahas pernikahan. Mungkin dia baru saja mendapatkan materi terkait pernikahan.
“Anak ini,” batin saya. “Jelas belum menikah tapi membahas pernikahan. Dengan agak berlebihan”.
Waktu itu indikasi ukuran berlebihan atau tidak juga tidak jelas. Karena lumayan akrab di media itu, tanpa ragu saya berkomentar,
“wuiii belum menikah, sudah berani membahas pernikahan.” Kurang lebih seperti itu.
“Memang untuk membahas kematian harus mati dulu.” Tanpa saya duga dia membalas komentar bagaikan cemesan maut.
“Eh kok gitu cara meresponnya.” batin saya.
Bayangan saya ia akan merespon “iya kan sedang belajar.” Cukup. Atau kalau mau panjang bisa , “Namanya belajar tidak harus mengalami lebih dulu. Bisa belajar dari orang lain yang sudah mengalami.” Untuk kasus ini mungkin ekspektasi saya yang ketinggian.
Ketiga, ini baru saja terjadi tgl 11 juni 2024 kemarin. Di x, saya mengikuti seorang pekerja lepas atau biasa disebut freelancer. Pedagang online. Sebut saja namanya Pak Edi. Seumuran dengan saya. Dari tulisan dan konten yang ia dibagi, saya berpendapat dia punya skill yang sangat bagus. Saya suka dan menikmati tulisan dan konten yang ia buat. Saya beberapa kali berkomentar dan dikomentari balik.
Saya sempat membahas tulisan-tulisan dia yang dulu. Scroll untuk mencari tahu sedikit latar belakangnya. Memang pintar orangnya. Bisa merangkai kata dengan baik. Pedagang gitu loh. Kudu pinter ngecap. Soft sellingnya mantap. Banyak membahas/menulis refleksi diri, ide dan pemikiran-pemikiran yang nampak sederhana.
Kemarin dia menulis begini, :
Akhir-akhir ini lagi muhasabah, berpikir,
Dulu sekolah 18 tahun total dari tk sampai ke jenjang kuliah, lulus-lulus jadi merasa bingung mau berbuat apa. Lalu berkesimpulan, sekolah formal ini buang-buang waktu. 18 tahun setidaknya kalo 6 tahun awal kita pake untuk eksplorasi sampe bertemu 1 bidang yang kita suka sekali.
Sisanya bisa dipakai untuk membangun expertise. sampe dikesimpulan untuk, unschooling anakku nanti. kalo outputnya adalah mandiri, trigger curiosity, mengasah intuisi dan kreativitas. sepertinya sekolah formal dan gelar sudah tidak relevan lagi.
Seperti biasa, di x setiap pendapat yang sudah dilempar layaknya umpan bagi para ikan. Ada ikan yang buas, ada ikan yang santai.
Ada komentar dari Bu Hapsa. seperti ini,
“Kurang setuju untuk ini Pak, kalau memang ada biaya dan kesempatan mungkin lebih tepat cari sekolah yang kurikulumnya mendukung anak bisa menjelajah apa yang beneran mereka suka. Sekolah tetap penting.
Menurut saya, ini termasuk ikan yang santun. Meski tidak setuju, disampaikan point ketidaksetujuannya. Eh tiba-tiba dibalas begini sama Pak Edi:
“Tidak setuju tidak apa apa mba, karna sy tidak lg nyaleg jadi tidak perlu banyak orang yang setuju. Dengan raut wajah yang sumringah.”
“Lho kok gitu responnya” batin saya. Bisa jadi saya kurang pas menangkap pesan itu. Meskipun ada senyum di akhir kalimat. Kalimat itu begitu menohok. Saya hampir tidak pernah mengomentari hal-hal seperti ini. Berusaha menghindari. Kurang ada manfaatnya. Kali ini lain. Karena saya merasa menikmati tulisan Pak Edi. Sebagai rasa terimakasih saya menulis komentar sebagai berikut:
Pak Edi pandangannya bagus. Bu Hapsa memperluas pandangan itu. Saya melihat bukan dari frame setuju atau tidaknya. Tapi dari point masalah. Dua-duanya ok.
Saya mengikuti Pak Edi mungkin belum satu tahun. Suka dan menikmati tulisan Pak Edi. Agak “lho kok gitu responnya.”
Kembali ke komunikasi. Kita membutuhkan kemampuan komunikasi untuk menunjang pemenuhan kebutuhan yang disampaikan melalui sebuah pesan. Terkadang kita mengajak orang lain melakukan sesuatu. Kadang kita diajak orang lain melakukan sesuatu. Mengajak dan diajak. Meminta tolong, dimintai tolong. Bergantian.Ditengah-tengahnya, ada jembatan bernama komunikasi.
Saya kira agar hal tersebut berjalan baik, diperlukan komunikasi yang efektif dan baik. Komunikasi yang berlandaskan adil sejak dalam pikiran, niat berbuat baik dan terus belajar.
Karena kita semua adalah seorang penyampai pesan.






https://shorturl.fm/iKUh1
https://shorturl.fm/Gg54K
https://shorturl.fm/cbi3R
https://shorturl.fm/t4Ldh
https://shorturl.fm/jeNbb
https://shorturl.fm/ftBe6
https://shorturl.fm/ooo2w
https://shorturl.fm/6cLzV
https://shorturl.fm/InV1J
https://shorturl.fm/JWW78
https://shorturl.fm/NZMDF
https://shorturl.fm/i33y6
https://shorturl.fm/6pFGZ
https://shorturl.fm/WX9TL
https://shorturl.fm/e6BKm
https://shorturl.fm/679Xf
https://shorturl.fm/TGrVK
https://shorturl.fm/J0wkR
https://shorturl.fm/WXEQl
https://shorturl.fm/HdgzP
https://shorturl.fm/EjaI1
https://shorturl.fm/29anI
https://shorturl.fm/10Vr1