
Identitas Buku
- Judul Buku : Kematian Sebuah Bangsa
- Nama Penulis : Kahlil Gibran
- Penerjemah : Iwan Nurdaya Djafar
- Penerbit : Narasi dan bekerjasama dengan Pustaka Promethea
- ISBN : 978-623-7586-04-3
- Tahun Terbit : 2019 (Cetakan Ketiga)
- Cetakan : III
- Tebal Buku : 177 Halaman
- Ukuran Buku : 13×19 cm
- Harga Buku : Rp. 45.000;
- Presensi : Ayu Lestari ( Ketua Komisariat Pergerakan Mahasiswa Indonesia Al-Hidayat Lasem Masa Khidmat 2021-2022 ).
Buku ini, bukan menjadi buku ciptaan Kahlil Gibran untuk yang pertama kali. Sudah kesekian kali beliau menciptakan suatu karya baik itu puisi, cerpen (cerita pendek) dan beberapa karya sastra lainnya yang sangat digandrungi oleh berbagai khalayak umur, dari berbagai usia. Sastra menjadi obat bagi setiap pecinta dunia sastra dimana dalam ruang lingkup sastra terdapat makna-makna yang tersirat dan tentative berdasarkan gaya imajinasi dan penyampaian dari sang penulis. Menurut penyunting buku ini, Kahlil Gibran menuangkan secara kompleks antara sastra dan sosial, antara sastra dan kehidupan-kehidupan nyata sebagai seorang manusia. Apalagi dalam memberikan makna sastra yang mendalam terkait kebusukan penguasa, pengeksploitasan rakyat, dan kekejaman-kekejaman lainnya.
Kahlil Gibran merupakan sastrawan termasyhur yang ada di Negara Lebanon. Lahir pada tanggal 1883.di usianya yang baru menginjak umur 12 tahun, ia imigrasi dengan ibu dan kedua adik perempuannya menuju Negara Amerika. Pada waktu itu Kahlil sempat pulang kampong ke tanah kelahirannya untuk mempelajari bahasa Arab. Setelah itu, Kahlil Gibran memutuskan di usia remajanya berkelana menjadi seniman Bohemian, Boston. Beberapa karya sastra telah ia ciptakan seperti halnya sayap-sayap patah, sang nabi, si gila, air mata dan senyuman, The Procession, Yesus Anak Manusia, dan masih banyak lagi. Teruntuk buku ini, Kahlil berusaha menuangkan sastra yang imajinatif agar pembaca bisa meresapi secara emosional dari ungkapan pesan per pesan yang diguratkan kepada sang penguasa. Bagaimana keji dan ketidakadilan salah satu sang penguasa dalam bertindak semena-mena kepada bangsanya yang menjadikan kesengsaraan pun kemalangan bagi para warga atau masyarakatnya.
Kelebihan
“Kematian Sebuah Bangsa” ini secara otomatis membawa kita ke alam bawah sadar. Sembari itu, Kahlil Gibran mengemas buku tersebut dengan ciri khas nuansa sastranya dengan menyuguhkan imajinasi-imajinasi yang abstrak dan tentatif. Daya tarik dari buku ini juga dengan adanya alur cerita yang dramatis dimana ia menyimpulkan bagaimana sang penguasa yang dzalim kepada rakyatnya dengan segala dinamika kehidupan yang melilit rakyat jelata untuk bertahan hidup, mengekspresikan perasaan, mengemukakan pendapat, serta pengajuan keadilan. Di lihat dari segi sampul buku dan desainnya terlihat menarik dan sesuai dengan isi bukunya. Tidak gampang terlipat dan elegan.
Kekurangan
Ada banyak sekali kelemahan-kelemahan yang tertera pada buku ini. Yakni yang bisa saya temui selama membaca buku yang berjudul kematian sebuah bangsa ini merupakan hasil terjemahan dari perpaduan buku The Earth Gods and Secrets Of The Haerts, yang notabene masih ada keterkaitan makna. Sehingga penjelasan yang diberikan dalam sepenggal kalimat terasa ambigu dan membuat pembaca bingung. Selain itu gandanya halaman per halaman yang semakin membuat pembaca kesulitan.
Kemungkinan, bagi pembaca pemula untuk membaca serta memahami makna tersebut merasa kebingungan seyogyanya pihak penyunting maupun editor dapat memperbaikinya kembalikarena sastra yang diambil oleh Kahlil Gibran ini tidak sembarang sastra. Walaupun faktanya sastra itu abstrak dan tidak dapat dirumuskan menggunakan kata-kata yang bersifat non fiktif.
Isi Resensi
Manusia itu ibarat budak. Patuh terhadap kebiasaan, kebijakan, peraturan dan semua aturan yang semestinya ia sendiri yang menciptakannya. Diikuti selama masa kelahiran datang hingga manusia tersebut kembali menjadi tanah dan menyusul tuhannya. Dalam buku ini menjelaskan bahwa selama hidup di dunia, manusia mengalami tindak perbudakan yang amat terlihat. Dengan selalu menyembah setiap berhala-berhala yang terpasung sejak Babilonia hingga Kairo, dari Ain Dour sampai Baghdad, dan lain sebagainya
Rantai perbudakan yang sedemikian rupa itu terjadi dari beberapa orang yang terlibat, seperti halnya pemagang dengan pengrajin, pengrajin pada majikan, majikan terhadap tentara, tentara membudak kepada gubernur, gubernur membudak dengan raja, raja bersimpuh pada pendeta, dan lain-lain. Dari pernyataan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia berpangkat dan yang tidak semuanya tunduk pada atasannya masing-masing. Selaras dengan apa yang terjadi dalam sistem pemerintahan di Indonesia berdasarkan fakta yang notabene presiden membudak dengan rakyatnya.
Namun hal tersebut tidak menjadi suatu pemikiran secara utuh oleh masyarakat atau warga yang sebenarnya masih diketemukan perbudakan-perbudakan yang terbelit-belit yang menyebabkan lidah menjadi kelu untuk mnegucapkan apa yang menjadi ungkapan hati, pendapat, dan sanggahannya. Dari sini, Kahlil Gibran memberikan kiasan dengan adanya lidah-lidah yang lemah, mereka pura-pura merenungkan keadaan buruknya yang kosong. Oleh karena itu, seorang bocah pun mampu menjunjungnya. (halaman 30).
Terdapat seorang mayat laki-laki yang tergeletak, kemudian ditemui oleh gadis-gadis laut yang rambutnya panjang keemasan. Para gadis tersebut samar-samar mengamati setiap lekuk tubuh si mayat tersebut seraya bergumam di hatinya bahwasanya inilah yang sebenarnya seorang manusia yang masuk di kehidupan masa lampau, dimana laut dalam keadaan meninggi. Lalu salah satu gadis tersebut mempertanyakan jika manusia itu mengaku menjadi utusan dari dewa-dewa. Tapi, faktanya manusialah yang menimbulkan peperangan dan perpecahan di bumi ini. Dengan adanya pertumpahan darah.
Disusul oleh penyampaian fatwa dari gadis ketiga yang menyampaikan bahwasanya manusia itu berhasil menaklukkan bumi, dalih-dalih seperti itu alhasil mereka ingin menguasai laut, setibanya di laut ia menemukan benda asing. Lalu, benda tersebut dibawa ke permukaan laut yang menjadikan dewa laut sangat murka. Akhirnya, manusia memutuskan untuk memberikan beberapa upeti, kurban, dan mayat seorang laki-laki ini yang menjadi salah satu upeti yang mereka berikan. Putri-putri laut merasa bahwa raja laut sangat berbesar hati terhadap perlakuan keji yang ia terima dari keserakahan manusia yang ada di bumi.
Dari sanalah sang putri-putri laut hendak memeriksa kembali uang tebusannya. Ia menghampiri anak muda seraya mengecek kantong-kantong. Selama pengecekan, mereka menemukan pesan akrab yang tertulis jelas bahwa tulisan tersebut dari seorang kekasih yang dia cintai. Kuatnya jalinan cinta antara anak muda dan kekasihnya itu tersekat oleh bengisnya peperangan yang memisahkan guratan kasih yang telah mereka rajut. Setelah membaca dan menghayati kata per kata yang ada pada tulisan tersebut, putri-putri laut meletakkan kembali catatan tersebut.
Tentang Penulis

Ayu Lestari. Penulis asal Desa Sumbergirang, Kranggan Gang V RT 02 RW 04 Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang lahir pada 23 Agustus 2001 ini seorang sastrawan sekaligus aktivis PMII Komisariat Al-Hidayat Lasem. Ia menempuh jenjang pendidikan strata 1 di STAI AL-HIDAYAT Lasem dengan mengambil program studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Penulis bisa ditemui di beberapa akun media sosial miliknya:
Facebook: Aeyu Loestari
Surel: kompeten345@gmail.com
Twitter: @cuitansastra23
Instagram: @ayu_lestari230801, @inisastra__





Leave a Reply