Picture: pixabay.com Lestari Sastra Pena Adakah yang seperti pena? Dimana sepekat tinta dapat mengjulangkan dunia lebih mudah ketimbang hanya bemulut busa Pena mempunyai isi Benar-benar harus terlatih dan menempuh waktu belajar sampai bertahun-tahun Mewakili curahan setiap orang Dan membuka mata ...
Lestari Sastra Liuk Di ujung sana Ada aku dan tawamu Berdendang setiap tetes air mata Yang tak sengaja mengalir karena debur nafasmu Kala angin meliukkan hempasannya Aku ingin melukiskan sesuatu di langit-langit Adakah awan yang masih bertahan Saat tawaku tak ...
Sumber Gambar (Doc. Syifa Jannatuzzahra/dailysastra.com). Erami Akhlakku Oleh: Lestari Sastra Alih-alih mengucap satu kalimat Berkata satu kata pun daku masih gagap harus takdzim Akhlakku masih minim Lagi-lagi dibenturkan dengan realita Acap kali atmaku menggerung tak kuasa Dibalik bentroknya suara hati ...
Memeluk Dinginnya HujanOleh: Lestari Sastra Rintik hujan Tak mampu menahan dinginnya atap dinding rumahku Seakan turun Hanya membasahi sebagian dari tanah tandus Mula ku pandangi aroma airmu Tak ada keruhnya Sama seperti peluh yang mengalir kian derasnya Gemuruh suara hentakan ...
Penulis: Rusti Suwarni Catatan Masa Kecil di balik jendela sunyi kita pernah menitipkan harapan Pada ranting dan dahan yang di singgahi lembut embun pagi dengan rasa jiwa yang sahaja kita terjaga menyambut hari menyapa bersama mimpi apa adanya tak ada ...
Larung SesajiAku susuri sungai yang mengalun riuh dengan gelombang derunya Simpang siur orang-orang berbondong-bondong merapal doa Selamat dan sentosa harap menghinggap dalam satu waktu Penyair yang hendak merapal di tengah laut itu membawa seserahan Dari sepenggal kepala kambing, segenggam bunga ...
Pada Jejak Puing-Puing Kulihat puing-puing bangunan itu berserakan diam air hujan mengguyurnyaterik mentari memanggangnya pasrah kutatap mereka tanpa meratap seperti halnya hujan yang menyuburkan ladang dan mentari yang menerangi siang terus kutatap,kutatap tanpa meratapyang pergi bakal tergantiMurni Tiyana, Juni 22 ...
Rintih Sayu Di bawah sinar rembulan Tampak noda merintih Ku sampir selendang kenangan Hilang ditemani rembulan Sayup sayu rinduku Terbang tinggi ke angkasa pura Jatuh bersimpuh Di hadapan sang Dewa-Dewi suci Dimanakah kenangan itu Kabur ditengah keramaian Aku masih menunggumu ...
Dari Sehelai Telinga Telingamu Laksana kerlingan kuncup bunga Yang ingin mereka Tanda kebahagiaan Terselimut kemaluan Malu jikalau semerbaknya Tak seharum dulu Dimana suluran ucapannya masih selembut sutra Rajutannya terlihat rapi Aku mengendap-endap dalam tong kosong Mencari sembari menjamah apa isi ...
Pesona Dari Lekukmu Setiap hela nafas yang menyelip di sela-sela nadi Setiap candu mata menyibak di rongga-rongga katup Hijaumu menggodaku Gemulaimu menentramkanku Entah decak kagum atau menikmati Itu masih terlihat sama Kau elok dari setiap lekukmu Dari setiap panjang asrimu ...







